Studio pengembang game independen menghadapi tantangan serius setelah judul horor terbarunya, Horses, mengalami kegagalan rilis di dua platform besar. Setelah ditolak oleh Steam pada akhir November 2025, game ini juga dibatalkan untuk peluncuran di Epic Games Store hanya sehari sebelum jadwal rilis yang telah ditentukan.
Keputusan Epic Games untuk tidak meluncurkan Horses disebabkan karena dianggap melanggar pedoman mengenai konten yang dianggap tidak pantas, termasuk konten kebencian atau penyalahgunaan. Sang pengembang merasa dirugikan karena mereka tidak diberikan informasi jelas mengenai bagian mana dari game yang dianggap bermasalah. Hal ini semakin mengecewakan saat pengembang mengajukan banding yang kemudian ditolak tanpa penjelasan lebih lanjut.
Kontroversi Pelarangan Game
Pembatalan rilis Horses menciptakan gejolak di komunitas game. Banyak yang mempertanyakan konsistensi kebijakan platform dalam menilai game non-mainstream, terutama yang mengandung simbolisme kuat. Santa Ragione, sang pengembang, menilai sikap platform tentang kebijakan konten menunjukkan bias dalam penilaian, terutama ketika mempertimbangkan dampak hubungan publik dan reputasi mereka.
Dari sisi finansial, situasi ini tentu menyulitkan pengembang. Mereka telah menginvestasikan waktu dan dana selama dua tahun untuk mengembangkan Horses, dengan total biaya yang mencapai USD 100.000. Selain itu, Alaska tetap mencoba untuk merilis game tersebut melalui platform alternatif seperti GOG, Itch.io, dan Humble Store dengan harga yang cukup bersaing.
Strategi Penyampaian Konten yang Berbeda
Horses dikenal luas sebagai game horor surreal yang mengangkat isu sosial lewat simbolisme. Pengembang menciptakannya sebagai kritik terhadap kondisi manusia melalui karakter berkepala kuda yang terlihat absurd. Menarik untuk dicatat, bahwa meskipun banyak yang menganggapnya sebagai tontonan kekerasan, esensi game ini jauh lebih mendalam dan memiliki makna yang kuat.
Meski mengalami penolakan di dua platform utama, langkah Santa Ragione untuk merilis melalui platform alternatif menunjukkan sikap optimis dan komitmen terhadap visi kreatif mereka. Kontroversi ini tidak hanya berimbas pada pengalaman bisnis mereka, tetapi juga memperlihatkan kepada komunitas gamer tentang tantangan yang dihadapi oleh pengembang indie dalam mengatasi regulasi yang ketat dari platform distribusi digital.
Kasus Horses mengingatkan kita akan pentingnya kebebasan berekspresi dalam seni dan bagaimana regulasi platform dapat menjadi batu sandungan bagi karya-karya yang inovatif. Ini juga menciptakan ruang untuk diskusi yang lebih luas mengenai keseimbangan antara kebijakan konten yang ketat dan hak pengembang untuk menyampaikan karya mereka dengan cara unik.







