Kasus ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada Jumat, 7 November 2025, menggugah kesadaran akan masalah serius terkait kekerasan di sekolah. Anggota Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, menyesalkan dugaan keterlibatan siswa dalam insiden ini dan menilai hal tersebut menandakan lemahnya sistem pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan, meskipun program-program anti-kekerasan telah dicanangkan oleh pemerintah.
Tragedi ini menjadi tamparan bagi semua pihak terkait, terutama ketika masyarakat berharap sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Dengan banyaknya program yang ada, muncul pertanyaan: mengapa kasus kekerasan masih bisa terjadi di lingkungan yang seharusnya mendidik dan melindungi generasi muda ini?
Kurangnya Efektivitas Program Anti-Kekerasan
Di tengah gelombang protes terhadap kekerasan di sekolah, Hadrian menekankan bahwa meskipun regulasi dan program telah ada, implementasinya masih sangat lemah. Pemerintah melalui Kemendikdasmen telah meluncurkan berbagai program seperti tujuh jurus PK hebat untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mencegah kekerasan. Namun, pelaksanaan di lapangan menunjukkan sebaliknya; insiden kekerasan terus terjadi, menunjukkan bahwa sosialisasi dan pengawasan terhadap program tersebut belum mencapai tujuan yang diinginkan.
Sebuah data menunjukkan bahwa siswa yang mengalami kekerasan di sekolah tidak hanya menderita fisik, namun juga dampak psikologis yang dapat mengganggu perkembangan mereka. Pengalaman buruk ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan prestasi akademik siswa. Oleh karena itu, penting untuk menyoroti kembali efektivitas dari program-program yang ada.
Strategi untuk Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman
Menanggapi situasi ini, Hadrian mendorong perlunya sinergi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk orang tua, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Jika semua pihak bersatu dalam menciptakan budaya yang menolak kekerasan, yakinlah sekolah bisa menjadi tempat yang aman. Komisi X mendorong agar ada diskusi terbuka mengenai solusi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Dalam diskusi tersebut, penting untuk mengedepankan sudut pandang dan pengalaman siswa, agar mereka merasa didengar dan diikutsertakan dalam proses pembentukan lingkungan belajar yang aman. Selain itu, pelatihan bagi guru untuk mengenali tanda-tanda kekerasan dan cara meresponsnya juga harus dilakukan secara rutin.
Pendidikan Karakter sebagai Landasan Utama
Hadrian berpendapat bahwa pendidikan karakter harus menjadi fokus utama dalam dunia sekolah. Dalam menghadapi arus negatif dari media sosial dan budaya kekerasan yang mengintai, pendidikan karakter menawarkan fondasi moral yang tidak bisa diabaikan. Dengan pendidikan karakter yang baik, siswa dapat dilengkapi dengan alat dan nilai-nilai yang mereka butuhkan dalam menghadapi tantangan di zaman sekarang.
Pentingnya pendidikan karakter juga berhubungan erat dengan reformasi kurikulum pendidikan yang ada. Dalam revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, penekanan terhadap pelarangan segala bentuk kekerasan di sekolah harus terus digaungkan. Sehingga, siswa dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kesejahteraan mental dan emosional mereka.
Upaya Tegas tetapi Berbasis Perlindungan Anak
Dalam penegakan kebijakan, Hadrian menekankan perlunya sanksi yang tegas bagi pelaku kekerasan, tanpa mengabaikan prinsip perlindungan anak. Hal ini penting karena sanksi yang tepat dapat menjadi deterrent yang efektif, namun tetap perlu mempertimbangkan dampak psikologis terhadap anak yang terlibat, baik sebagai pelaku maupun korban.
Penting bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk bekerjasama dalam menciptakan sistem yang tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga melindungi semua siswa. Pendidikan yang aman adalah hak setiap anak, dan segala bentuk tindakan yang bisa mengancam hak tersebut harus dicegah dengan segala cara.







