Kegiatan Ijtima’ Ulama Dunia yang digelar di Kota Baru, Lampung Selatan, memberikan dampak yang signifikan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Sejak persiapan hingga hari pelaksanaan, aktivitas ekonomi meningkat pesat berkat kehadiran ratusan ribu jemaah dari berbagai penjuru, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dengan banyaknya pengunjung, kawasan sekitar lokasi acara dipenuhi pedagang kuliner, kios kebutuhan harian, hingga penjual makanan siap saji yang serba ramai. Pengunjung memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati berbagai kuliner khas Lampung dan berbelanja, yang tidak hanya memperkaya pengalaman mereka, tetapi juga memberikan peluang bagi para pelaku UMKM.
Dampak Ekonomi Positif bagi UMKM
Menyaksikan lonjakan jumlah pengunjung, dampak positif terhadap ekonomi lokal menjadi sangat nyata. Siti Aminah, seorang pemilik warung makan di kawasan Jati Agung, mengungkapkan bahwa omzetnya meningkat tajam selama acara berlangsung. “Biasanya, saya hanya menghabiskan sekitar 5 sampai 7 kilogram beras setiap hari. Sekarang, sehari bisa habis hingga 25 kilogram. Omzet saya naik hampir empat kali lipat, Alhamdulillah,” ujarnya dengan penuh syukur.
Selain itu, Joko Pranoto, pedagang minuman keliling, mencatat peningkatan serupa. “Pada hari biasa, saya menjual sekitar 70 hingga 100 gelas. Namun, saat acara ini, penjualan saya dapat mencapai 300 gelas dalam sehari,” tuturnya. Keduanya berharap acara semacam ini bisa diadakan secara terus-menerus, mengingat dampak positif pada perekonomian lokal sangat terasa.
Perhitungan Ekonomi yang Mengesankan
Estimasi kasar menunjukkan potensi dampak ekonomi yang sangat mengesankan. Jika setiap jemaah mengeluarkan minimal Rp30 ribu per hari untuk keperluan konsumsi, dan dengan perkiraan 300 ribu jemaah hadir, perputaran uang dari sektor makanan saja mencapai Rp9 miliar per hari, atau Rp27 miliar dalam tiga hari. Ini belum termasuk transaksi dari kebutuhan harian, transportasi, logistik, dan pasar rakyat, yang semua berkontribusi pada perekonomian lokal.
Peningkatan permintaan juga dirasakan di sektor transportasi. Ojek online, angkutan desa, hingga penyewaan kendaraan melaporkan peningkatan pesanan yang signifikan. Akomodasi di daerah sekitar seperti Natar dan Jati Agung juga mencatat lonjakan okupansi, menandakan tingginya minat pengunjung untuk tinggal lebih lama akibat berbagai aktivitas yang ditawarkan. Moda transportasi darat dan laut bahkan turut beroperasi dengan kapasitas yang lebih tinggi.
Secara keseluruhan, para pedagang dan masyarakat luas di daerah tersebut sangat mengapresiasi kegiatan besar seperti Ijtima’ Ulama, karena berfungsi sebagai pendorong utama bagi perekonomian masyarakat. Siti dan Joko berharap agar lebih banyak acara seperti ini diadakan, sebab mereka merasakan betul keuntungan yang terkait dengan perputaran ekonomi yang meningkat.
Sebuah acara keagamaan berskala besar seperti Ijtima’ Ulama tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai pendorong ekonomi yang kuat dan relevan untuk masyarakat Lampung. Inisiatif semacam ini bisa jadi jalan untuk memperkuat pertumbuhan sektor UMKM dan mendorong pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan.







