Program Makan Bergizi Gratis di SD Negeri 1 Way Dadi, Sukarame, Bandar Lampung, mengalami penghentian dalam distribusinya selama satu bulan terakhir. Siswa-siswa tidak menerima jatah makanan bergizi sejak pertengahan Januari 2025 karena adanya pengalihan operasional dapur yang melayani program ini.
Penghentian distribusi ini diungkapkan oleh Kepala SD Negeri 1 Way Dadi, Yulisa Ramania, yang menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk pemerataan beban kerja antar Satuan Penyedia Pemenuhan Gizi di daerah tersebut. Siswa dan orang tua pun mulai mempertanyakan kelanjutan dari program yang telah memberikan dampak positif bagi keluarganya.
Penyebab Penghentian Distribusi Makan Bergizi
Yulisa menjelaskan bahwa penyebab utama dari penghentian distribusi adalah adanya pengalihan dapur yang tidak hanya mengubah lokasi tetapi juga menuntut adaptasi dalam proses operasional. “Terakhir kami menerima distribusi pada 12 Januari lalu, dan hal ini membuat kami harus menahan distribusi untuk sementara waktu. Pengelola mengalihkan beban dari dapur lama ke dapur baru untuk lebih merata,” ungkap Yulisa. Proses transisi menuju dapur baru tidak berjalan serta-merta dan memerlukan komunikasi yang intens dengan pengelola.
Menariknya, selama masa transisi, Yulisa sangat proaktif dalam menjalin komunikasi dengan pihak pengelola agar program ini segera bisa berjalan kembali. Hal ini menunjukkan kedisiplinan dan komitmen dari pihak sekolah dalam memastikan kebutuhan gizi siswa tetap terpenuhi meski dalam situasi yang tidak ideal.
Strategi Menjaga Kualitas Program Makan Bergizi
Dalam upaya menjaga program Makan Bergizi Gratis yang sudah berjalan dengan baik, sekolah juga menggandeng orang tua siswa untuk turut berperan serta. Yulisa menginformasikan kepada orang tua mengenai kondisi penghentian program melalui grup komunikasi kelas. “Kami menyampaikan imbauan kepada orang tua untuk menyiapkan bekal makanan dari rumah selama masa transisi. Hal ini dimaksudkan agar siswa tetap mendapatkan asupan yang baik,” papar Yulisa.
Antusiasme dari siswa terlihat jelas, dimana banyak dari mereka menanyakan tentang kembalinya menu makanan gratis yang mereka nikmati sebelumnya. “Anak-anak sangat menyukai program ini dan sering menanyakan kapan mereka bisa kembali mendapatkan makanan bergizi,” ungkapnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya program ini bagi anak-anak, tidak hanya dari segi nutrisi tetapi juga kenyamanan dan kebahagiaan mereka di sekolah.
Yulisa menargetkan bahwa distribusi Makan Bergizi Gratis dapat kembali normal pada pertengahan Februari ini. Harapannya, program yang merupakan bagian dari inisiatif pemerintah untuk meningkatkan gizi anak-anak di sekolah ini tetap berjalan dengan baik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh siswa maupun keluarga mereka.
Melalui komunikasi yang baik dan pengaturan yang tepat, diharapkan program ini dapat kembali berjalan tanpa kendala. “Kami sangat berharap pengelola bisa segera melanjutkan program MBG ini. Ketika anak-anak merasa diperhatikan dan mendapatkan makanan yang baik, tentu akan berdampak positif pada kesehatan dan pembelajaran mereka,” tutup Yulisa.







