Pemerintah Provinsi Lampung semakin giat dalam mendorong peningkatan investasi dengan membuka akses bagi para investor. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen daerah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM menyatakan bahwa hingga Triwulan III tahun 2025, investasi di Provinsi Lampung telah mencapai Rp12,94 triliun. Angka tersebut tidak hanya melampaui target investasi tahun 2025 sebesar Rp10,76 triliun, tetapi juga mencerminkan pertumbuhan investasi yang signifikan.
Peningkatan Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Capaian investasi ini menggembirakan karena menunjukkan pertumbuhan sebesar 76,44 persen secara year-on-year dibandingkan tahun sebelumnya. Total realisasi investasi pada Triwulan III 2025 terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mencapai Rp10,80 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp2,12 triliun. Realisasi investasi ini berkontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, dengan tercatat 18.505 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan 21 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang terserap di berbagai sektor.
Hasil ini menempatkan Lampung dalam posisi lima besar provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di Pulau Sumatera serta peringkat ke-22 di tingkat nasional. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa upaya penguatan ekonomi dan investasi di daerah ini berjalan sesuai harapan.
Strategi Penguatan Infrastruktur untuk Mendukung Iklim Investasi
Penguatan iklim investasi di Lampung adalah hasil kerja bersama, ditopang oleh pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penyederhanaan regulasi. Lampung memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera, yang berdekatan dengan Ibu Kota Jakarta, sehingga menjadi daya tarik tambahan bagi investor.
Pembangunan infrastruktur yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong arus ekonomi, perdagangan, dan investasi secara signifikan. Beragam potensi unggulan di daerah ini, khususnya sektor pertanian dan sumber daya alam, semakin meningkatkan daya tarik investasi. Produksi padi yang mencapai 2,79 juta ton menempatkan Lampung di posisi keenam nasional, sementara ubi kayu dengan produksi sekitar 8 juta ton menjadikannya sebagai produsen terbesar di Indonesia.
Komoditas pertanian lainnya seperti jagung, nanas, kopi, tebu, lada, dan pisang juga menjadi kontributor penting dalam sektor ini. Potensi yang ada membuka peluang luas bagi investasi hilirisasi pertanian, yang dapat memberikan nilai tambah serta efek ekonomi berantai bagi masyarakat setempat.
Sektor energi baru dan terbarukan juga menunjukkan perkembangan pesat, mencakup bioethanol, panas bumi, tenaga air, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Selain itu, sektor pariwisata dengan kekayaan alam dan warisan budaya seperti kain tapis dan batik Lampung sangat menjanjikan. Semua faktor ini menunjukkan bahwa Lampung sedang berupaya menjadi pusat aktivitas investasi yang berkembang pesat.
Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen untuk menyederhanakan regulasi dan memangkas hambatan birokrasi. Proses perizinan usaha kini telah terintegrasi melalui sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA). Dengan sistem ini, pengurusan izin dapat dilakukan secara daring dengan proses yang lebih cepat, transparan, dan efisien. Semangat kolaborasi antara semua pihak menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan investasi di daerah ini.
Secara keseluruhan, strategi yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Lampung dalam mengembangkan iklim investasi menunjukkan optimisme untuk masa depan yang lebih baik. Dengan potensi yang begitu besar, diperlukan kerja nyata, integritas, dan kolaborasi yang kuat dari semua pihak untuk mewujudkan visi pembangunan daerah yang berkelanjutan.







