Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan baru saja melaksanakan survei indikatif calon lahan di dalam area perkebunan untuk mendukung pengembangan hilirisasi peternakan nasional. Survei ini diharapkan dapat mendorong pemerataan produksi daging dan telur, khususnya di luar Pulau Jawa.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam upaya mencapai ketahanan pangan nasional. Direktur Utama menyatakan dukungannya terhadap rencana ini, yang menunjukkan komitmen untuk memanfaatkan aset lahan secara lebih optimal. Apa sebenarnya yang mendorong bangsa kita untuk bergerak ke arah diversifikasi usaha demi mencapai tujuan pangan yang lebih baik?
Strategi Pengembangan Klaster Produksi Pangan
Survei calon lahan berlangsung pada tanggal 22 hingga 23 November 2025, di mana tim Kementerian Pertanian mengunjungi lokasi-lokasi yang dikelola oleh perusahaan, seperti di kebun Kedaton dan Kebun Bergen di Lampung, serta lahan Pabrik Gula Cinta Manis di Sumatra Selatan. Langkah ini penting untuk mengatasi ketimpangan dalam produksi pangan yang terjadi, terutama mengingat saat ini 63 persen dari total produksi telur dan daging ayam masih terpusat di Pulau Jawa.
Data menunjukkan bahwa produksi telur mencapai 6,2 juta ton per tahun, sementara daging ayam sekitar 3,8 juta ton per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemerataan produksi pangan menjadi suatu kebutuhan mendesak untuk meningkatkan ketahanan pangan di berbagai wilayah lain di Indonesia, termasuk Kalimantan dan Nusa Tenggara.
Inisiatif untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian juga menyiapkan pengembangan klaster produksi di beberapa provinsi, termasuk Aceh, Riau, Sumatra Selatan, dan Lampung. Dalam tahap ini, fokus akan ditujukan pada 10 provinsi yang memerlukan perhatian lebih dalam hal produksi pangan. Selain itu, pembangunan 323 fasilitas industri ayam menjadi bagian dari langkah ini, mencakup berbagai proses dari pembesaran, pemotongan, hingga penyimpanan dingin.
Dukungan anggaran sebesar Rp20 triliun telah disiapkan untuk mendorong integrasi dan modernisasi sektor unggas. Melalui langkah besar ini, diharapkan konsep “Setiap Pulau Mandiri Protein” dapat terwujud. Dengan demikian, pasokan protein hewani akan dapat dipenuhi dengan lebih baik dari daerah masing-masing, sehingga keseimbangan ekonomi dan ketahanan pangan dapat terjaga.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya besar yang menuntut kerjasama lintas sektor. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan setiap langkah yang diambil dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumber daya pangan.
Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan baru saja melaksanakan survei indikatif calon lahan di dalam area perkebunan untuk mendukung pengembangan hilirisasi peternakan nasional. Survei ini diharapkan dapat mendorong pemerataan produksi daging dan telur, khususnya di luar Pulau Jawa.
Inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam upaya mencapai ketahanan pangan nasional. Direktur Utama menyatakan dukungannya terhadap rencana ini, yang menunjukkan komitmen untuk memanfaatkan aset lahan secara lebih optimal. Apa sebenarnya yang mendorong bangsa kita untuk bergerak ke arah diversifikasi usaha demi mencapai tujuan pangan yang lebih baik?
Strategi Pengembangan Klaster Produksi Pangan
Survei calon lahan berlangsung pada tanggal 22 hingga 23 November 2025, di mana tim Kementerian Pertanian mengunjungi lokasi-lokasi yang dikelola oleh perusahaan, seperti di kebun Kedaton dan Kebun Bergen di Lampung, serta lahan Pabrik Gula Cinta Manis di Sumatra Selatan. Langkah ini penting untuk mengatasi ketimpangan dalam produksi pangan yang terjadi, terutama mengingat saat ini 63 persen dari total produksi telur dan daging ayam masih terpusat di Pulau Jawa.
Data menunjukkan bahwa produksi telur mencapai 6,2 juta ton per tahun, sementara daging ayam sekitar 3,8 juta ton per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemerataan produksi pangan menjadi suatu kebutuhan mendesak untuk meningkatkan ketahanan pangan di berbagai wilayah lain di Indonesia, termasuk Kalimantan dan Nusa Tenggara.
Inisiatif untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian juga menyiapkan pengembangan klaster produksi di beberapa provinsi, termasuk Aceh, Riau, Sumatra Selatan, dan Lampung. Dalam tahap ini, fokus akan ditujukan pada 10 provinsi yang memerlukan perhatian lebih dalam hal produksi pangan. Selain itu, pembangunan 323 fasilitas industri ayam menjadi bagian dari langkah ini, mencakup berbagai proses dari pembesaran, pemotongan, hingga penyimpanan dingin.
Dukungan anggaran sebesar Rp20 triliun telah disiapkan untuk mendorong integrasi dan modernisasi sektor unggas. Melalui langkah besar ini, diharapkan konsep “Setiap Pulau Mandiri Protein” dapat terwujud. Dengan demikian, pasokan protein hewani akan dapat dipenuhi dengan lebih baik dari daerah masing-masing, sehingga keseimbangan ekonomi dan ketahanan pangan dapat terjaga.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya besar yang menuntut kerjasama lintas sektor. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan setiap langkah yang diambil dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumber daya pangan.







